Bolehkah Pesepak Bola Tidak Berpuasa Saat Bertanding

Bagikan

Puasa Ramadan menghadirkan tantangan tersendiri bagi atlet profesional muslim, terutama yang berkarier di kompetisi elite Eropa dengan jadwal padat. Pertanyaan muncul apakah pemain sepak bola diperbolehkan tidak berpuasa demi menjaga stamina saat pertandingan.

Bolehkah Pesepak Bola Tidak Berpuasa Saat Bertanding

Isu ini dibahas dalam Pengajian Tarjih oleh Asep Shalahudin, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Contohnya adalah Lamine Yamal yang sering tampil di tengah hari selama Ramadan, serta pemain terkenal lain seperti Karim Benzema dan Mohamed Salah. Pertanyaan pentingnya adalah apakah mereka boleh tidak berpuasa, dan jika iya, apakah harus qadha atau membayar fidyah.

tebak skor hadiah pulsa 100k  

Menurut Asep, alasan “menjaga performa” semata tidak otomatis menjadi uzur untuk meninggalkan puasa. Aturan Islam menegaskan keringanan berpuasa hanya berlaku untuk orang sakit atau musafir. Jadi, sekadar ingin menjaga stamina pertandingan tidak cukup kuat secara syariat.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Safar Menjadi Pertimbangan Utama

Bagi pemain yang melakukan perjalanan lintas negara untuk pertandingan, status safar menjadi pertimbangan syar’i. “Kalau dia statusnya sebagai musafir, tidak ada masalah,” jelas Asep. Artinya, seorang pemain yang sedang bepergian untuk laga resmi dapat diberikan keringanan untuk tidak berpuasa.

Namun, keringanan ini bukan tanpa konsekuensi. Jika tidak berpuasa karena safar, pemain wajib mengganti puasa di hari lain (qadha), bukan membayar fidyah. Hal ini berlaku karena kemampuan berpuasa tetap ada, hanya diundur ke waktu yang lebih memungkinkan.

Jadi, alasan yang tepat untuk tidak berpuasa bukan sekadar menjaga performa, tetapi terkait perjalanan yang diakui syariat. Dengan kata lain, safar memungkinkan fleksibilitas, tetapi tetap ada tanggung jawab untuk mengganti puasa.

Baca Juga: West Ham Tunjukkan Tanda Kebangkitan di Bawah Nuno Espirito Santo

Tidak Semua Pertandingan Memberikan Keringanan

Bolehkah Pesepak Bola Tidak Berpuasa Saat Bertanding

Asep menekankan bahwa pekerjaan berat yang rutin berbeda dengan pertandingan sepak bola yang berlangsung periodik. Pemain tidak bertanding setiap hari dan sering bermain di kandang sendiri tanpa melakukan perjalanan jauh. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada alasan syar’i untuk meninggalkan puasa.

Kajian tafsir, seperti Tafsir at-Tanwir, menjelaskan bahwa kadar kesulitan (masyaqqah) menjadi pertimbangan. Ada sakit ringan dan berat, serta safar ringan dan berat. Dengan begitu, keputusan untuk tidak berpuasa harus mempertimbangkan tingkat kesulitan secara nyata, bukan hanya asumsi atau kenyamanan pribadi.

Meski begitu, apabila pemain tetap mampu berpuasa tanpa merasa terbebani secara berlebihan, maka berpuasa tetap lebih utama. Ini menjadi apresiasi bagi pemain yang memilih disiplin beribadah sambil tetap tampil di level profesional.

Contoh Nyata dan Inspirasi Pemain

Lamine Yamal menjadi contoh nyata pemain yang tetap berpuasa saat bermain, meski menghadapi pertandingan dengan intensitas tinggi. Konsistensinya ini mendapatkan apresiasi dari banyak pihak, termasuk pengamat sepak bola dan umat muslim muda.

Fenomena ini juga menjadi inspirasi bagi anak-anak dan remaja di Indonesia yang bercita-cita menjadi pesepak bola. Mereka belajar bahwa kedisiplinan dalam ibadah dan profesionalisme di lapangan bisa berjalan seiring.

Secara umum, aturan Islam memberikan fleksibilitas dengan batas yang jelas puasa boleh ditinggalkan hanya bagi yang sakit atau sedang safar. Untuk pemain profesional, keputusan harus seimbang antara kesehatan, performa, dan kewajiban agama. Nantikan terus kabar terbaru seputar sepak bola menarik lainnya hanya di footballify.net.